Minggu, 12 Juni 2011

di pojok terminal Tirtonadi

sore menjelang magrib, ketika aku dan kedua temanku sampai di kota Solo. Perjalanan 3 jam yang melelahkan membuatku tersadar bahwa perjalanan ini harus berhenti sejenak. Terdengar alunan ayat suci Al Quran yang merdu menggema di setiap penjuru terminal.

Allahu akbar..Allahu akbar...

"Kita sholat dulu ya" kata temanku.

Kami pun segera berjalan mencari mushola terdekat. Baru kusadari, ternyata tak hanya kami yang berjalan menuju mushola. Bapak - bapak dari tukang loket, supir bis, dan para penumpang lain yang berjalan bergegas untuk segera memenuhi panggilan sholat.

Dalam hati, aku begitu kagum, di tempat yang seperti ini, masih ada orang - orang yang dengan begitu semangatnya untuk menunaikan sholat. Kekagumanku tak terhenti sampai situ saja. Saat sholat magrib, imam membacakan surat al Insyiroh yang begitu merdu.

setelah sholat Magrib, seorang ibu yang sudah paruh baya,melantunkan alunan ayat - ayat Quran yang indah, awalnya aku kira ibu itu membaca Quran, namun tebakanku kali ini salah.
Beliau ternyata murojaah dari ayat yang dihafalnya..
subhanallah..

Ternyata di tempat ini, di mushola yang terletak di pojok terminal ini..
masih terdapat hati yang mengingat-Mu...

Allahumma ainni min dzikrika..wa sukrika..wa bi husni 'ibadatik..
Amiiin

kenapa maksiat terulang lagi?

Secara garis besarnya Al-Qur'anul Karim telah membagi keadaan manusia menjadi tiga tingkatan yaitu tingkatan alami,akhlaki dan rohani. Untuk ketiga tingkatan tersebut masing-masingnya mempunyai sumber yang berbeda bagaikan mata air yang
daripadanya memancar keadaan-keadaan tersebut secara terpisah.

Tingkatan yang pertama dari manusia itu adalah TABI'I (alami) yang bersumber dari jiwa yang disebut NAFSU AMMARAH sebagaimana yang dijelaskan Al-Qur'an :
"Innan nafsala ammaratun bissuu i", Sesungguhnya nafsu ammarah itu menyuruh kepada kejahatan (12;53). Adalah merupakan ciri khas dari nafsu ammarah itu untuk membawa manusia kearah kejahatan yang bertentangan dan bertolak belakang dengan keadaan akhlaki manusia itu. Nafsu ammarah juga menginginkan manusia itu berjalan pada jalan yang tidak baik dan jahat.

Melangkahnya manusia kepada pelanggaran dan kejahatan adalah suatu keadaan alami yang bersimaharajalela atas dirinya sebelum ia mencapai keadaan akhlak dan rohani, dimana manusia itu bertindak dibawah naungan pertimbangan akal dan makrifat Ilahi. Seperti halnya hewan-hewan berkaki empat dalam segala kebiasaannya, makan minumnya, tidur bangunnya, kawin cerainya, dan segala kebiasaan lainnya, manusia itu cenderung mengikuti dorongan alaminya, dan inilah yang disebut dengan "thabi'i" (pembawaan alam). Dan manakala manusia itu tunduk kepada akal dan makrifat Ilahi serta mempertimbangkan perasaannya maka keadaan demikian tidak lagi disebut keadaan alami. Dan pada keadaan ini manusia telah berada ditingkatan akhlak seperti yang akan dijelaskan berikut ini.

Adapun keadaan akhlak yang merupakan tingkatan kedua dari martabat manusia berasal dari sumber yang disebut NAFSU LAWWAMAH sebagaimana diisyaratkan Al-Qur'an sbb: "Walaa uqsimu bin nafsil lawwamah". Aku bersumpah dengan nafsu (jiwa) yang amat menyesali(dirinya sendiri) (75;2). Sesampainya manusia pada tingkatan akhlak, manusia itu akan memperoleh kebebasan dari keadaan alami yang berumber dari NAFSU AMMARAH tadi. Allah Ta'ala bersumpah dengan nafsu lawwamah dalam ayat ini adalah untuk memberikan penghormatan kepada manusia.
Jadi dengan peningkatan dari "nafsu ammarah" kepada "nafsu lawwamah" yang jelas itu adalah merupakan suatu "kemajuan", manusia dari tingkatan hewani kepada insani sehingga ia layak menerima kehormatan dari sisi Allah.


Disebutnya "nafsu lawwamah", karena ditingkatan ini keadaan jiwa manusiabsenantiasa mencela setiap kejahatan dan tidak menyenangi tingkah laku yang sewenang-wenang dalam memenuhi keinginan-keinginan alaminya laksana hewan-hewan berkaki empat. Nafsu lawwamah menghendaki manusia untuk menghayati keadaan-keadaan yang baik serta budi pekerti yang luhur dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya. Janganlah hendaknya manusia itu melakukan pelanggaran-pelanggaran dan segala perasaan-perasaan serta hasrat-hasrat alaminya diberi penyaluran yang sesuai dengan pertimbangan akal. Jadi, karena jiwa itu menyesali tindakannya yang buruk maka ia dinamakan "nafsu lawwamah",yaitu nafsu yang sangat menyesali.

Kendatipun "nafsu lawwamah" itu tidak menyukai keadaan "alami" yang cenderung kepada kejahatan,bahkan sering menyesali dirinya sendiri yang dalam melaksanakan kebaikan-kebaikan yang "akhlaki" belum menguasai diri sepenuhnya.

Kadang-kadang perasaan alaminya mengalahkannya, kemudian ia tergelincir dan jatuh. Ringkasnya martabat akhlaki dicapai oleh jiwa itu ketika telah terkumpul dalam dirinya "budi pekerti luhur" serta jera dari berbuat kedurhakaan, akan tetapi belum lagi menguasai diri sepenuhnya.

Lebih lanjut keadaan ketiga yang disebut keadaan "rohani", dimana Al-Qur'an menyebut sumber keadaan ini dengan "NAFSU MUTHMAINNAH" sebagaimana difirmankan-Nya dalam ayat berikut:"Yaa ayya tuhannafsul muthmainnah. Irr ji'ii ilaa Rabbiki radhiyatan mardhiyah. Fad khulii fi'ibaadi. Wad khuli jannatii". Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jama'ah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kedalam syurga-Ku. (89:27-30)

Inilah tingkatan terakhir dari perkembangan jiwa manusia,dimana manusia itu bebas dari segala kelemahan. Dalam keadaan ini jiwa manusia itu dipenuhi oleh kekuatan-kekuatan rohani seakan-akan tercangkok dengan wujud Allah Ta'ala sehingga jiwa manusia itu merasakan tidak bisa hidup tanpa Dia. Laksana air yang mengalir dari atas kebawah yang karena banyaknya dan tiada sesuatupun yang menghambatnya, maka air itu terjun dengan derasnya, begitu juga jiwa manusia tak henti-hentinya mengalir terus dan menjurus kepada Tuhan. Itulah yang diisyaratkan Allah Ta'ala dalam firmannya: "Hai jiwa yang tenang (yang mendapat ketenangan dari Tuhan). Kembalilah kepada Rabbmu (Tuhanmu) dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

Ringkasnya didalam hidup ini jugalah dan bukan sesudah mati, manusia itu harus menciptakan perubahan yang gilang gemilang dari keadaan alami, kepada keadaan
akhlaki yang selanjutnya menuju rohani. Didalam dunia ini juga bukan ditempat
lain manusia menemui kehidupan syurga yakni ketentraman. " Kembalilah kepada Rabbmu (yakni yang memeliharamu)", dimana ia mendapat pemeliharaan dari Tuhan.
Kecintaan Tuhan ia rasakan dalam keadaan ini dan merupakan gizi makanan baginya.
"Sesungguhnya beruntunglah (meraih kemenangan) orang yang mensucikan jiwa itu
dan sesungguhnya merugilah (menderita kekalahan) orang yang mengotorinya".
(91;9-10)


Akhirnya kembali kepada diri kita sendiri.Sebuah pertanyaan yang perlu kita jawab dan renungkan. Sampai ditingkatan mana kita sekarang ini baru berada?
Sudahkah kita berada pada keadaan akhlak atau rohani atau masih saja ditingkat alami? Sudahkah kita tingkatkan perkembangan jiwa kita dari nafsu ammarah ketingkat lawwamah yang selanjutnya menuju muthmainnah?


NB: Uraian ini disarikan dari buku "THE PHILOSOPHY OF THE TEACHINGS OF ISLAM", Penerbit THE LONDON MOSQUE,tahun 1979.

"Allahumma inny as aluka fi'lal khoirot watarkal mungkarat"
Ya Allah hamba mohon jadi senang taat & jadi kuat menjauhi ma'siyat"

Selasa, 07 Juni 2011

Muhasabah Cinta

Wahai... Pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dariMu
Kupasrahkan semua padaMu

Tuhan... Baru ku sadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini kuharapkan cintaMu

Reff. :
Kata-kata cinta terucap indah
Mengalun berzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah selama ini
Ya ilahi....
Muhasabah cintaku...

Tuhan... Kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku denganMu

Cintaku Utuh, Tak Tersentuh..

Ku mencintamu utuh tak tersentuh….,



Jika ada yang bertanya, bagaimana aku memandang perkara jodoh, maka akan ku jawab, bagiku sama saja kau menanyakan keyakinanku tentang kematian..



Jodoh dan kematian adalah rahasia-Nya yang tersembunyi dalam tabir keghaiban-Nya, dan tersimpan dengan indah dalam tiap lembar daun di lauhul mahfuzh..



Lalu apa yang ku khawatirkan? Dan kenapa pula ku harus mengejar? Tidak, aku tak sudi.. Ku katakan padamu wahai para wanita perhiasan terindah dunia..



Jangan pernah mengobral murah kehormatanmu untuk hal yang kau sendiri tak yakin kehakikiannya? Pahamkah maksudku?



Ku tanya padamu, pernahkah kau jatuh cinta? Ku akui, akupun juga… Tapi tak pantas bagi kita mengumbar rasa itu.. Rasa yg entah akan berlabuh di mana?Lalu pikirkan, jika dia yang kau cinta, yang mengganggu tidurmu, membuatmu menangis karena rindu, ternyata bukan atau mungkin tak kan pernah menjadi pendampingmu, atau bukan kau yang dia pilih? Tak malukah? Tak malukah?



Lalu, apa masih mampu kau tatap wajah suamimu kelak dengan cinta yang seutuhnya jika ternyata dulu kau pernah menaruh separuh hatimu pada lelaki lain… Wahai para lelaki, tak cemburukah? Tak cemburukah? Tak cemburukah kau jika saat ini wanita yang kau pilih kelak sedang menyerahkan hatinya pada lelaki selainmu, namun ternyata kau yang akan meminangnya.



Tak sakit hatikah bila ketika bersamamu, ternyata dia tengah membandingkanmu dengan sosok lain dalam hatinya? Tak sedihkah? Tak sakitkah? Tak cemburukah? Jika kau, para lelaki, menjawab 'ya' maka, itu pula yang kami, wanita, rasakan..



Takkan pernah bosan ku ingatkan, bahwa yang akan berlaku tetaplah ketetapan-Nya…. Sekuat apapun usaha kalian jika tak sejalan dengan kehendak-Nya, maka tak akan pernah terjadi.. . Lalu, buat apa kau mubazirkan waktumu? Untuk apa Kau kuras energi? Kerana apa kau habiskan airmatamu?.... untuk orang yang belum tentu menjadi milikmu? Untuk apa?



Dan ku katakan padamu. Mungkin kau yang akan memilihku belum ku cinta saat itu. Tapi ketahuilah, karena kau memilihku, kau ku cinta... Bukankah jatuh cinta adalah sebuah proses? Akan ada sebab, akan ada hal yang membuatku jatuh cinta padamu, dan kau pun akan mencintaiku.. Dan ketika itu terjadi, semua telah terangkai dengan indah dalam kerangka kehalalan, dalam ikatan pernikahan yang disebut mitsaqan ghalizhan..



Dan tak akan pernah ada ragu ku katakan kuserahkan cintaku UTUH TAK TERSENTUH, padamu.. Hanya padamu.. ya, hanya padamu dan untukmu duhai cintaku….

taken from http://www.facebook.com/notes/forum-bisnis-dan-promosi/cintaku-utuh-tak-tersentuh/206244429411996

Sabtu, 04 Juni 2011

one Day in SamPoKong

saat anak2 SMA tengah selesai berjuang memperebutkan kursi perguruan tinggi,
aku bersama teman2 satu kelompok dalam matakuliah Teknik Komunikasi biasa disingkat TEKOM, juga berjuang mencari celah di tengah padatnya kendaraan di sepanjang jalan Sudharto, alias undip..

malangnya siang itu sungguh begitu terik sinar matahari menyengat kulit,
dengan menahan nafas, sekaligus menahan emosi saat motor tak bergerak2 dari posisi awal..akhirnya kami berhasil menerobos keluar, dan segera menuju tempat syuting kami di sebuah tempat yang belum pernah ku singgahi..

ternyata cobaan masih belum berakhir, di tengah jalan, tiba2 motor salah seorang dari anggota kelompok terkena sesuatu yang menyebabkan ban belakangnya kempis tak terisi udara..dengan semangat setia kawan yang di ajarkan kakak2 senior waktu PRO-SES-I dulu , kami semua menunggu motornya diperbaiki di tempat tambal ban terdekat..

akhirnya tiba di tempat tujuan..
Sam Po Kong..
dari namanya aja jelas bukan asli dari Indonesia,
disana tempat ibadah penganut agama Khonghucu sekaligus tempat wisata
Bastian, Virga, Ken dan aku

Foto bersama kelompok Tekom ^^

Jumat, 03 Juni 2011

Bila memasuki Bulan Rajab, Nabi saw mengucapkan:
"Allahumma bariklama fii rojaba wa Sya'bana wa balighna Ramadhan"
Ya Allah, berikanlah keberkahan pada Bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada Bulan Ramadhan"

*1 Rajab 1432 H*

Kamis, 02 Juni 2011

Warna - Warna CINTA

Mereka berkata
Hidup perlukan cinta
Agar sejahtera aman dan bahagia
Andai tiada atau pudar warnanya
Meranalah jiwa gelaplah dunia

Warna-warna cinta
Yang terlukis di hatimu
Semat pada senyuman dan tangismu
Agar mewarnai
Jiwamu yang tulus
Seperti sang pelangi selepas gerimis

Mereka berkata
Cinta itu merah
Mengalir bersama titisan yang sempurna
Cinta berharga bila sudah tiada
Menjadi sejarah yang mungkin kan di lupa

Apa warna cinta
Bila hidup sengketa
Kabur warnanya

Warna-warna cinta
Yang terlukis di hatimu
Semat pada senyuman dan tangismu
Agar mewarnai jiwamu yang tulus
Seperti sang pelangi selepas gerimis

Senin, 30 Mei 2011

My Family, My Everything

teruntuk keluargaku yang aku sayangi,
maap bapak, ibu, kedua adik2ku yang lucu
aku belom bisa pulang sekarang..
bukan karena aku tidak mau pulang untuk bisa berkumpul dengan kalian,
bukan karena itu,,
tapi TUGAS ini..rasanya masih setia untuk menahanku di tempat ini..
tempat yang jauh dari rumah, jauh dari canda dan tawa bersama kalian,,

walaupun aku memang jauh disini, tapi hatiku masih tetap bersama kalian
nama kalian akan selalu terucap dalam tiap doaku

Bapak..
Ibu..
Adek2ku..
I MISS YOU ALL!!!